Literatur

Studi Klinis & Meta-Analisis

  1. Tinjauan Sistematis: Fitokimia, Aktivitas Farmakologi, dan Penggunaan Tradisional Helichrysum italicum

    Tahun:
    2023
    Tipe:
    Systematic Review
    Sampel:
    35 artikel terindeks Scopus/PubMed yang membahas fitokimia dan aktivitas farmakologi H. italicum
    Dosis/Durasi:
    Bervariasi; dosis ekstrak pada hewan 100–400 mg/kg BB per oral selama 2–8 minggu.
    Temuan:
    H. italicum mengandung arzanol, gnaphalin, neryl acetate, dan senyawa fenolik yang berkontribusi pada aktivitas antiinflamasi, antioksidan, dan antimikroba. Bukti uji klinis masih terbatas, sehingga dosis aman pada manusia belum dapat ditetapkan secara definitif.
  2. Aktivitas Antiinflamasi dan Antioksidan Ekstrak Etanolik Helichrysum italicum pada Sel Makrofag RAW 264.7

    Tahun:
    2021
    Tipe:
    Studi eksperimental in vitro
    Sampel:
    Ekstrak etanol 80% dari bagian aerial H. italicum; sel RAW 264.7 diinduksi LPS 1 µg/mL; konsentrasi ekstrak 10–100 µg/mL dengan 3 ulangan
    Dosis/Durasi:
    Pre-treatment ekstrak selama 2 jam, kemudian induksi LPS selama 24 jam.
    Temuan:
    Ekstrak menurunkan produksi nitrit oksida (NO) dan prostaglandin E2 serta menghambat ekspresi COX-2 dan iNOS. Efek ini berkaitan dengan kandungan arzanol sebagai senyawa antiinflamasi utama.
  3. Aktivitas Antibakteri dan Antibiofilm Minyak Atsiri Helichrysum italicum terhadap Staphylococcus aureus Resisten Metisilin

    Tahun:
    2020
    Tipe:
    Studi eksperimental in vitro
    Sampel:
    Minyak atsiri H. italicum dengan kadar neryl acetate ±65%; 10 isolat klinis MRSA dan MSSA
    Dosis/Durasi:
    Konsentrasi serial 0,125–4% (v/v), inkubasi 24 jam; uji biofilm dilakukan selama 48 jam.
    Temuan:
    Minyak atsiri menunjukkan MIC 0,5–2% (v/v) dan menghambat pembentukan biofilm sebesar 75–90%. Mikroskop elektron menunjukkan kerusakan membran sel bakteri.
  4. Efek Penyembuhan Luka Topikal Ekstrak Helichrysum italicum pada Tikus Wistar Model Luka Eksisi

    Tahun:
    2022
    Tipe:
    Studi eksperimental in vivo
    Sampel:
    36 tikus Wistar jantan (180–220 g); luka eksisi 2 cm; terdiri atas 4 kelompok: kontrol, basis salep, ekstrak 5%, dan ekstrak 10%
    Dosis/Durasi:
    Pemberian topikal sekali sehari selama 14 hari.
    Temuan:
    Salep ekstrak 10% mempercepat penutupan luka, meningkatkan ketebalan granulasi, serta deposisi kolagen dibandingkan kontrol. Tidak ditemukan tanda toksisitas sistemik.
  5. Hambatan Asetilkolinesterase dan Efek Neuroprotektif Minyak Atsiri Helichrysum italicum

    Tahun:
    2022
    Tipe:
    Studi eksperimental in vitro
    Sampel:
    Minyak atsiri H. italicum; uji enzim AChE metode Ellman; sel SH-SY5Y diinduksi H2O2
    Dosis/Durasi:
    Paparan minyak atsiri 10–200 µg/mL selama 24 jam sebelum dan selama induksi H2O2.
    Temuan:
    Minyak atsiri menghambat AChE dengan IC50 45,7 µg/mL dan melindungi sel SH-SY5Y dari stres oksidatif. Aktivitas ini menunjukkan potensi H. italicum untuk riset penyakit neurodegeneratif.
  6. Uji Klinis Acak Terkontrol Krim yang Mengandung Ekstrak Helichrysum italicum untuk Elastisitas dan Hidrasi Kulit

    Tahun:
    2023
    Tipe:
    RCT
    Sampel:
    40 wanita sehat berusia 40–60 tahun dengan kulit wajah kering dan kendur; double-blind, placebo-controlled
    Dosis/Durasi:
    Krim 2% dioleskan dua kali sehari pada wajah selama 8 minggu.
    Temuan:
    Penggunaan krim dengan ekstrak H. italicum 2% selama 8 minggu meningkatkan elastisitas kulit sekitar 12,4% dan hidrasi kulit sekitar 18,2% dibandingkan plasebo. Tidak ada efek samping serius yang dilaporkan.
  7. Penghambatan SARS-CoV-2 3CLpro oleh Arzanol dari Helichrysum italicum: Studi In Silico

    Tahun:
    2021
    Tipe:
    Studi in silico
    Sampel:
    Senyawa arzanol dan 20 fitokimia utama H. italicum; penambatan molekuler terhadap protease 3CLpro (PDB ID: 6LU7)
    Dosis/Durasi:
    Simulasi penambatan molekuler; tidak ada dosis klinis.
    Temuan:
    Arzanol menunjukkan afinitas ikatan yang tinggi terhadap SARS-CoV-2 3CLpro dan memenuhi sebagian besar kriteria drug-likeness. Temuan ini menjadi dasar untuk penelitian lanjutan secara in vitro dan in vivo.

Advertisement


Cari: